Ambon - Akibat ulah provokator, Kota Ambon Minggu (11/9) kembali ricuh yang menyebabkan tiga orang tewas.
Kericuhan dipicu meninggalnya seorang tukang ojek warga Waihaong yang bernama Darvin Saiman. Kabar tewasnya korban menyebar luas dengan cepat.
Informasi pun simpang siur. Ada yang mengatakan korban tewas dibunuh, sedangkan informasi lainnya Saiman meninggal akibat kecelakaan lalu lintas (lakalantas).
Informasi yang dihimpunSiwalima, menyebutkan, korban pada Sabtu (10/9), sekitar pukul 21.00 WIT, mengantarkan penumpang ojek asal Gunung Nona. Sepulangnya dari Gunung Nona, ia mengalami lakalantas di seputaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA), dan oleh warga setempat dilarikan ke RSUD Haulussy Ambon. Namun sayangnya, nyawa korban tidak dapat tertolong alias meninggal dunia.
Informasi meninggalnya korban ini menyebar luas dan ada pihak sengaja mempolitisir dengan mengabarkan bahwa yang bersangkutan meninggal akibat dibunuh.
Sekitar pukul 14.00 WIT, konsentrasi massa mulai terjadi di kawasan Waringin Tanah Lapang Kecil (Talake). Bahkan warga yang mendiami kawasan perbatasan di Talake mulai mengungsi ke sejumlah sanak saudara mereka di tempat yang aman seperti Wainitu, OSM dan sekitarnya.
Disaat yang bersamaan, keluarga korban sementara melangsungkan prosesi pemakaman korban di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Muslim Mangga Dua - Ambon.
Sekitar pukul 14.30 WIT, usai pemakaman dan keluarga hendak pulang, ternyata mereka mulai melempari siapa saja yang ditemui di tengah jalan entah pejalan kaki maupun kendaraan yang lewat.
Massa semakin beringas manakala lima unit sepeda motor dibakar dan satu unit angkutan kota jurusan Air Salobar dilempari dengan batu.
Sementara itu, dua jam kemudian, konsentrasi massa semakin brutal terlihat memenuhi kawasan jalan AM Sangadji. Massa mulai beringas akibat provokator begitu cepat menyebarkan isu yang menyesatkan.
Saling baku lempar batu tidak terelakan lagi. Akibatnya tiga orang diketahui meninggal dunia, mereka diantaranya Rony Elly, Jefri Siahaan dan Cliford Belegur. Ketiga orang ini meninggal akibat diterjang timah panas.
Sementara puluhan orang dinyatakan mengalami luka-luka akibat lemparan batu dan benda tumpul lainnya. Data yang diperoleh Siwalima dari berbagai rumah sakit di Kota Ambon terungkap, di RSUD Haulussy sebanyak 44 orang dirawat akibat mengalami luka-luka yang cukup serius, sementara di RS Al-Fatah sebanyak 65 orang dirawat akibat mengalami luka-luka dan RS Bhakti Rahayu sebanyak 14 orang juga mengalami luka-luka.
Konsentrasi massa tidak hanya terjadi di Jalan AM Sangadji, akan tetapi saling baku lempar juga terjadi di kawasan Talake, bahkan informasi yang berhasil dihimpun sejumlah rumah di kawasan itu ikut terbakar.
Warga yang ketakutan lari kocar kacir menyelamatkan diri terutama anak-anak dan perempuan. Konflik 1999 yang lalu menjadikan warga trauma, sehingga kericuhan yang terjadi ini membuat warga panik dan ketakutan yang luar biasa.
Tidak hanya korban meninggal dan luka akibat lemparan benda-benda tumpul dan tajam, tetapi sejumlah kendaraan baik roda dua maupun roda empat yang sementara parkir di kawasan jalan AM Sangadji juga menjadi korban amukan massa. Kendaraan-kendaraan ini oleh massa dihancurkan kemudian dibakar.
Massa menjadi beringas, lantaran polisi juga lemah dalam pengamanan. Hal itu terbukti dengan minimnya aparat kepolisian untuk mengamankan massa. Sedikitnya tiga sampai empat orang personil polisi yang menghalau massa dari dua kelompok.
Beberapa jam kemudian setelah massa terkonsentrasi, baru puluhan personil Brimob Polda Maluku tiba di kawasan AM Sangadji. Tak lama kemudian ratusan personil Batalyon Infantri 733/Raider juga tiba.
Gubernur Maluku KA Ralahalu, Pangdam XVI Pattimura Mayjen TNI Suharsono, Kapolda Maluku Brigjen Polisi Syarief Gunawan, Wagub Said Assagaff, Walikota Richard Louhenapessy juga terlihat berada di sekitar kawasan Tugu Trikora untuk menenangkan massa yang berkerumun di ruas Jalan AM Sangadji maupun ruas Jalan dokter Sutomo.
Usai menenangkan massa di kawasan tersebut, mereka juga menuju kawasan Batu Gantung untuk melakukan hal yang sama.
Situasi dan kondisi Kota Ambon baru dapat dikendalikan sekitar pukul 19.00 WIT. Massa kemudian membubarkan diri, namun aparat gabungan TNI dan Polri sampai berita ini diturunkan masih siaga dan meningkatkan keamanan.
Hingga pukul 22.30 WIT, sejumlah ruas jalan masih ditutup dan material sisa kericuhan masih memenuhi jalan. (S-32)